Total Pageviews

Thursday, January 24, 2019

Islam Terhadap Agama Lain


Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila.Namun bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang kehidupan antar umat beragama ? Di dalam agama Islam tidak ada konsep permusuhan atau kebencian terhadap orang yang bukan agama Islam. Islam senantiasa untuk menegakkan hidup beragama di dalam suasana perdamaian, kerukunan dan saling kerjasama dengan orang-orang yang bukan beragama Islam. Hal ini dibuktikan oleh Rasulullah Saw ketika beliau membentuk pemerintahan di kota Madinah. Pada waktu itu penduduk kota Madinah terdiri atas tiga golongan, yaitu golongan Islam, golongan Yahudi dan golongan Nasrani. Beliau menyatukan persamaan hak, dan kemerdekaan beragama. Karena penganut agama Nasrani di Madinah pada waktu itu sedikit, maka perhatian Rasulullah tercurah kepada golongan Yahudi. Beliau mengadakan perjanjian dengan Yahudi, perjanjian itu yang dimaksud kepentingan duniawi semata, tidak menyangkut permasalahan substansi agama seperti masalah aqidah dan ibadah. Isi perjanjian itu antara lain sebagai berikut : 

 1. Seluruh penduduk Madinah merupakan satu kesatuan warga yang bebas berfikir dan melakukan agamanya masing-masing serta tidak boleh saling mengganggu.

 2. Apabila kota Madinah diserang oleh musuh harus mempertahankan bersama-sama.

 3. Apabila salah satu golongan diserang oleh musuh, golongan yang lain harus membantunya.

 4. Jika timbul perselisihan, penyelesaiannya di bawah keadilan yang dipimpin oleh Rasulullah.

         Dengan pembentukan masyarakat kota Madinah seperti ini, maka persatuan dan kesatuan dapat tercipta dengan kokoh dan dakwah Islamiyah dapat berjalan dengan sukses. Konsep hidup berdampingan dan tidak saling bermusuhan antara umat Islam dengan golongan agama lain ini sesuai dengan Al-quran surah Al-kafirun sebagai berikut :

 (3) قل يايهاالكفرون (1) لااعبدماتعبدون(2) ولاانتم عبدون مااعبد ولااناعابدماعبدتم (4) ولاانتم عبدون مااعبد (5) لكم دينكم ولي دين (6 

 Artinya : 
 1) Katakanlah "hai orang-orang kafir". 
2) Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
 3) Dan kamu tidak menyembah Tuhan yang aku sembah. 
 4) Dan aku tidak pernah menjadi pemyembah apa yang kamu sembah. 
 5) Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. 
 6) Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.

          Surah Al-kafirun ini turun di Makkah sebelum Rasulullah Saw hijrah ke Madinah. Menurut suatu riwayat pada suatu ketika beberapa orang pembesar kafir Quraisy datang menghadap Nabi Muhammad Saw. Mereka menyatakan agar Nabi Muhammad mengikuti agama mereka, dan merekapun bersedia mengikuti agama Nabi Muhammad Saw.

   
   Selama satu tahun Nabi Muhammad Saw diajak menyembah Tuhan mereka dan satu tahun kemudian mereka bersedia menyembah Tuhan Nabi Muhammad Saw. Jika ajaran Nabi Muhammad Saw terdapat kebaikan, maka kebaikan itu dapat dirasakan bersama. Demikian juga jika di dalam agama mereka terdapat kebaikan, kebaikan itu pun dapat dirasakan bersama pula. Permintaan orang-orang kafir Quraisy itu di tolak oleh Nabi Muhammad Saw karena yang demikian termasuk perbuatan syirik. Kemudian turunlah ayat surah Al-kafirun dan pada pagi harinya Rasulullah Saw, di Masjid Haram, di tengah-tengah kerumunan orang-orang Quraisy, Nabi membacakan surah tersebut. 

   Sebagai gambaran toleransi Islam terhadap golongan bukan Islam, tercermin dalam cara-cara melakukan penyiaran agama Islam. Dakwah Islam tidak boleh dilaksanakan dengan kekerasan atau paksaan, tetapi hatua dilakukan dengan cara halus, bijaksana dan menarik. Dakwah kepada orang yang bukan agama Islam dilakukan dengan jalan memberikan penerangan mengenai keimanan dalam Islam yang mudah dipahami, mengenai kesederhanaan kewajiban dalam mengamalkan ibadah dan muamalah keagamaan, dasar-dasar kesusilaan yang berprinsip saling menghormati dan sebagainya. 

       Sikap toleransi Islam terhadap golongan lain ini sesuai dengan firman Allah Swt sebagai berikut : 

 لااكراه في الدين قدتبين الرشدمن الغي فمن يكفربالطاغوت ويوءمن بااﷲ فقداستمسك بالعروۃالوثق لاانفصام لهاوﷲسميع عليم 

 Artinya : Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang salah. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui . (Al-baqarah ; 256). 

          Diceritakan dalam suatu kisah bahwa salah seorang sahabat dari golongan Anshar mempunyai dua orang anak yang beragama Nasrani. Sahabat tersebut datang kepada Nabi Muhammad Saw menanyakan apakah boleh memaksa kedua anaknya untuk masuk agama Islam ? setelah pertanyaan sahabat itu selesai, turunlah ayat yang mengatakan bahwa tidak ada paksaan untuk masuk agama Islam. 

    Dengan demikian jelaslah bahwa toleransi Islam terhadap golongan bukan Islam sangat tinggi. Tetapi ingat, bahwa toleransi ini hanya terbatas pada masalah-masalah keduniaan, seperti kerjasama dalam sosial budaya, ekonomi, politik dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan keduniaan. Adapun yang berkaitan dengan masalah ibadah dan aqidah harus sesuai dengan agamanya masing-masing.

No comments:

Post a Comment

Tanah Longsor di Rumahku

  Hujan seharian membuat kami sekeluarga merasa tidak nyaman berada di rumah, bahkan tidur pada malam hari tidak nyenyak. Hal ini karena...